Ads 468x60px

Kamis, 18 November 2010

Dokumentasi Kegiatan Idul Adha 1431 H

 1. Buka puasa dan Takbir keliling.




2. Penyembelihan Hewan Qurban.











3. Data donatur kurban.





Dokumen khusus Saudara-saudaranya sapi dan kambing.




Upps...kok banyak yang belum masuk fotonya ?
JANGAN KHAWATIR... Bapak sedang cuapek nih...Foto - foto yang lain insya Allah segera menyusul.
Sabar ya...

Rabu, 17 November 2010

HAKIKAT IDUL ADHA DAN IDUL QURBAN


HAKIKAT IDUL ADHA DAN IDUL QURBAN SEBAGAI SARANA MENEMUI ALLAH
oleh Ustadz Suparman Abdul Karim 


Setiap manusia yang dilahirkan diatas dunia ini, membawa sifat dasar yang disebut dengan sifat fithrah. Salah satu sifat fithrah tersebut adalah hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali ke tempat dimana ia berasal. Ketika kita bertanya ke dalam diri, dari manakah aku berasal ? Maka kita diperintahkan untuk mengenal diri, Siapakah aku ini ? Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Wa fil ardhi aayaatul lil muuqiniin. Wa fi anfusikum afala tubshiruun.

Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan ? ( QS Adz Dzariyat 51 : 20-21 )

Barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya ( Al Hadits )

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dengan berpasang-pasangan. Misalnya adalah alam lahir dan alam bathin, lelaki dan perempuan, siang dan malam, baik dan buruk, negatif dan positif dan sebagainya.

Wa min kulli syai-in kholaqnaa zaujaini la’allakum tadzakkarun

Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kamu mendapat pengajaran. ( QS Adz Dzariyat 51 : 49 )

Dalam ajaran Islam, diri kita dibagi menjadi minimal dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bagunan rohani. Hasil interaksi antara jasmani dan rohani akan menimbulkan gejala kejiwaan. Dengan kata lain, dari hasil perkawinan antara rohani dan jasmani maka lahirlah “ anak” yang bernama jiwa atau nafsani. Jika dilihat dari asalnya, maka jasmani berasal dari bapak ibu kandungnya, yang juga berasal dari garis keturunannya sampai ke asal nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Sedangkan rohani manusia berasal dari Allah dan Nabi Muhammad.

Tsumma sawwaahu wa nafakho fiihi ruhihi wa ja’ala lakumus sam’a wal abshooro wal af idata qoliilam maa tasykuruun

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya Roh-Nya dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur (QS. As Sajadah 32 : 9).

Anna minnallohi wal mu’minu minni

Aku adalah yang dijadikan pertama kali oleh Allah dan seluruh orang mu’min itu dijadikan dari padaku. (Al-Hadits)

Awalu ma kholaqollohu ta’ala nuuri

Pertama-tama yang dijadikan Allah adalah Cahayaku. (Al Hadits)

Dalam diri jasmani dan rohani, masing-masing mempunyai hasrat atau keinginan yang kuat untuk kembali menemui asalnya masing-masing. Tetapi keinginan yang kuat untuk kembali menemui asal tersebut tidak semuanya terpenuhi dengan baik dan benar. Oleh karena itu agama Islam memberikan tuntunan bagaimana keinginan atau hasrat untuk kembali menemui asal kita dapat terpenuhi dengan cara yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu dengan diperintahkannya umat Islam untuk merayakan dua hari raya besar, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha lengkap dengan ritual keagamaan yang mendahuluinya, sesuai dengan hadits Nabi :
Jabir ra. Berkata: Rasulullah saw datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan. Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah hari yang dua ini? Penduduk Madinah menjawab adalah kami di masa jahiliah bergemberi ria padanya. Kemudian Rasulullah bersabda : Allah telah menukar dua hari ini dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. (HR. Abu Dawud).

Sebelum merayakan hari raya Idul Fithri, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan yang ke sembilan yaitu Ramadhan dan pada tanggal 1 syawal kita merayakan hari raya Idul Fithri dengan penuh kegembiraan. Di negara kita hari raya Idul Fithri dirayakan dengan tradisi mudik atau pulang kembali ke asalnya masing-masing untuk bertemu dengan bapak dan ibunya di tempat tinggalnya masing-masing. Dan saat bertemu dengan bapak dan ibunya tersebut kita melaksanakan tradisi sungkem atau salim atau salaman untuk memohon ampunan atas segala dosa yang kita perbuat. Dalam tradisi tersebut, kita melihat bahwa umat Islam di Indonesia telah mempunyai tradisi untuk memenuhi hasrat atau keinginan setiap manusia untuk kembali ke asal jasmaninya, yaitu untuk kembali menemui kedua orang tuanya dan bersalim kepada keduanya.

Untuk memenuhi hasrat atau keinginan rohani untuk kembali kepada asalnya, Allah memerintahkan setiap umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Pada hakikatnya proses ritual ibadah haji merupakan proses perjalanan setiap manusia untuk pulang kembali ke asalnya baik secara jasmani maupun secara rohani. Jasmani manusia jika ditelusuri asalnya, semuanya berasal dari nenek moyang yang satu yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa, sedangkan semua rohani manusia berasal dari Allah. Dalam ritual ibadah haji yang menjadi puncaknya adalah wuquf di padang Arafah yang merupakan tempat pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa ketika diturunkan di atas dunia. Dari pertemuan itu maka lahirlah keturunan dari mereka berdua, yang sekarang jumlahnya telah mencapai kurang lebih 5 milyar. Setiap umat Islam mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat untuk kembali menapaktilasi atau menulusuri asalnya yaitu dengan berkunjung ke padang Arafah untuk merenungkan proses terjadinya pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa tepatnya di Jabal Rahmah.

Sedangkan secara rohani setiap manusia juga mempunyai hasrat atau keinginan untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah SWT. Keinginan ini disalurkan melalui proses ibadah haji dengan cara Wuquf di padang Arafah untuk mengenal dan bertemu dengan Allah. ( wuquf = menghentikan. Sedang arafah = mengenal. Jadi hakekat wuquf dipadang arafah adalah proses ritual untuk menghentikan aktifitas jasmani untuk mengenal dan bertemu dengan Asal kita yaitu Allah SWT ). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

Wa adzdzin fin naasi bil hajji ya’tuuka rijaalaw wa ‘alaa kulli dhaamiriy ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq

Dan serulah manusia untuk melaksanakan haji, niscaya mereka datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengendarai unta-unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj 22 : 27).

Secara jasmani tujuan melaksanakan ibadah haji, adalah melaksanakan rukun haji dengan sempurna, yang merupakan simbol dari gerak kembali ke asal-usul kejadian jasmani kita. Sedangkan secara rohani bertujuan untuk kembali menemui asalnya yaitu Allah. Hal ini berarti bahwa setiap umat Islam yang melakukan ibadah haji harus kembali menemui asal rohaninya yaitu Allah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :
Wa aniibuu ilaa robbikum wa aslimuu lahu min qobli ay ya’tiyakumul ‘adzaabu tsumma la tunshoruun

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepadamu azab kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. (QS Az-Zumar 39 : 54)
Maka segeralah kamu kembali menghadap kepada Allah , sesungguhnya aku pemberi peringatan yang terang dari Allah kepada kamu “. ( QS Adz Dzariyat 51 : 50 )

Yaa ayyuhal insaanu innaka kaadihun illa ribbika kadhan fa mulaaqiih
Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan usaha yang keras untuk menemui Tuhan dikau, sampai engkau bertemu dengannya. (QS Al-Insyiqaq 84 : 6)

Qul innamaa a’izhukum bi waahidatin an taquumuu lillahi matsnaawa furoodaa tsuma tatafakkaru maa bi shoohibikum min jinnatin in huwa illa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabin syadiid
Katakanlah : sesungguhnya aku hanya mengajarkan kepada kamu satu ajaran saja yaitu bahwa kamu menghadap Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi peringatan kepada kamu sebelum datang azab yang sangat keras ( QS Saba 34 : 46 )

Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk mengadakan pertemuan atau perjumpaan dengan Allah sewaktu masih hidup di dunia, dengan melaksanakan ibadah haji. Jadi Idul Adha merupakan sarana untuk merayakan kembalinya seorang manusia yang berhasil bertemu dengan Tuhannya. Kata Id berasal dari bahasa Arab, yang artinya kembali, sedangkan kata Adha seakar dengan kata Dhuha yang artinya Terangnya Cahaya Siang, sehingga Idul Adha dapat diartikan sebagai proses kembalinya seorang manusia yang pulang ke asalnya yaitu Cahaya Allah Yang Terang Benderang dengan melakukan prosesi Wuquf di padang Arafah. Wukuf artinya berhenti atau menghentikan segala aktifitas jasmani dan inderawi dalam rangka mengenal (Arafah) Allah Yang Padang (Terang), sesuai dengan hadits Nabi SAW : “Al Hajju arofah” = Bukti itu adalah mengenal. Mengenal siapa ? tentunya adalah mengenal Allah atau Ma’rifatullah.

Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, Hari Raya Idul Adha sering juga disebut dengan Istilah ‘Idul Qurban. Kata tersebut bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu “Id” dari kata “aada - ya’uudu”, yang bermakna “kembali”. Sedangkan kata “Qurban”, berasal dari kata qaraba-yaqrabu, bermakna ‘mendekat’. ‘Qarib’ adalah ‘dekat’, dan ‘Al-Muqarrabuun’ adalah ‘(hamba) yang didekatkan’.

Secara hakikat “Idul Qurban” mempunyai makna sebagai sebuah hari dimana kita belajar untuk kembali merenungi apa saja yang membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Cahaya.

Secara syariat, terdapat banyak cara bagi setiap hamba utnuk dapat mendekati Allah (Taqarrub ilaLlah). Salah satu caranya adalah dengan mengorbankan sebagian hartanya yang ditukarnya dengan daging kambing atau sapi, dengan harapan Allah akan menarik mereka semakin dekat pada-Nya, dan berharap Allah akan menerima qurban mereka sebagaimana Allah menerima qurban-nya putra Nabi Adam As yang bernama Habil.

Tentu yang kita kurbankan adalah harta yang memang terasa berat untuk dilepas, bukan harta yang kita keluarkan dengan ringan hati, disebabkan masih sangat banyaknya sisa harta yang kita miliki. Artinya, kita yang bergaji empat puluh lima juta rupiah perbulannya, dengan mengeluarkan dana hanya satu juta untuk seekor kambing bisa jadi belum disebut ‘berkurban’, karena tidak ada rasa pengorbanan yang membuat dia sulit mengeluarkannya. Bisa kita bayangkan bagaimana ‘rasa taqarrub‘ seorang Ibrahim a.s., atau Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang bisa mengurbankan ratusan ekor unta pada hari qurban-nya.

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (Al-Birr), sebelum kamu menginfakkan (tunfiquu) bagian (harta) yang kamu cintai (mimma tuhibbuun). Dan apa saja yang kamu infakkan (tunfiquu), maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran 3 : 92)
”Bukanlah Al Birr itu menghadapkan wajah kamu kea rah timur dan barat, tetapi Al Birr itu adalah barang siapa yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta, dan membebaskan perbudakkan, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan orang-orang yang memenuhi janjinya bila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesengsaran, penderitaan dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bershodaqo dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS Al Baqarah 2 : 177)

Jika kita yang bergaji empat puluh lima juta rupiah perbulan, kemudian dikeluarkan satu juta rupiah setiap tahun sekali saja untuk ‘kurban’ kita, sebagai sarana transformasi jiwa kita, apakah itu sudah sampai pada tingkat ‘menginfakkan bagian yang dicintai’ sebagaimana tersebut dalam ayat di atas? Akan sampaikah kita pada Al-Birr?

Tentu logika pemikiran kita perlu diajak untuk memaknai, mengapa akhirnya kita mafhumi banyak sekali umat Islam, para saudara kita yang setiap tahun berhasil mengeluarkan sebagian dananya untuk berkurban, namun tidak ada apapun yang berhasil mereka peroleh dari penyisihan sebagian uangnya itu, selain hal tersebut lewat begitu saja dengan tidak membawa perubahan sedikitpun kedalam dirinya. Itu menunjukkan bahwa makna Idul Qurban belum berhasil diperolehnya. Ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak menjadi semakin halus dan bersih, dan jasad tidak semakin beramal baik, maka kita sebenarnya tidak mendapat manfaat dari nilai-nilai Idul Qurban. Padahal sebenarnya melalui Idul Qurban itu, kita dapat menemukan, bukan saja amal baik, tetapi bisa jadi Allah berkenan menuntun kepada amal shalih-nya masing-masing. Sehingga pada akhirnya ‘Idul Qurban, sebagaimana maknanya, juga menjadi sebuah pintu ke arah tangga transformasi diri seorang hamba untuk menjadi ‘Al-Muqarrabuun’.

Mungkin, karena kita belum berhasil menemukan makna Idul Adha, sebagai nama lain dari Idul Qurban itu sendiri. (‘Adha’ memiliki makna terang dan penyembelihan). Ada yang harus kita ’sembelih’ di dalam diri kita ini pada setiap perayaan ‘Idul Adha. Demikian pula, pada dasarnya, tidak menjadi soal apakah kita memiliki uang yang cukup untuk berkurban, atau tidak.

Ketika kita belum memilki kemampuan untuk menyisihkan sebagian dana yang kita miliki dalam rangka belajar ber-qurban, mengorbankan harta kita, dan untuk menyembelih hewan kurban, sebenarnya Allah telah memberi kemampuan melakukan penyembelihan lain yaitu menyembelih ‘kambing’, ’sapi’, maupun ‘hewan ternak’ lain yang ada dalam diri kita yaitu berupa dominasi aspek hawa nafsu dan syahwat kita.

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu dan keluarlah dari kampungmu,” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya jikalah mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian adalah lebih baik bagi mereka, dan lebih menguatkan.” (QS An Nisa 4 : 66).

Sudah waktunya sekarang, pada saat kita memasuki pergantian tahun baru ini, dan pergantian perilaku yang baru ini, marilah kita sama-sama belajar untuk ‘membunuh diri’ yaitu belajar untuk menyembelih dominasi aspek kedengkian, aspek ketakaburan, aspek buruk sangka, aspek kemalasan, aspek keinginan pengakuan bahwa diri ini begitu berharga dimata orang lain, aspek kecintaan kita pada uang dan harta benda, dan segala aspek lainnya dalam diri kita yang memang perlu disembelih, untuk kemudian mempersembahkan hasilnya, yaitu diri kita yang telah ‘tersembelih’ dari aspek-aspek tersebut, kepada Allah Yang Maha Qorib.

Sudah waktunya pula kita belajar untuk ‘keluar dari kampung’ kita yaitu belajar untuk keluar dan memerdekakan diri dari dominasi jasadiyah terhadap jiwa kita yang sejati, dan belajar untuk keluar dari dunia fisikal dan jasadiyah ini. Kerena sesungguhnya masih ada dunia lain, di luar ‘kampung’ kita ini yang lebih Indah dan Damai.

“Sekali-kali tidaklah daging-daging dan darahnya itu dapat mencapai Allah, melainkan ketaqwaan yang dilakukan Ruhani kamu (yang dapat mencapai-Nya)… ” (QS Al hajj 22 : 37)

Bukan dagingnya, bukan darahnya, bukan uangnya. Tetapi ketaqwaan yang dilakukan oleh ruhani kita yang dapat mencapai-Nya. Mampukah kita ber-qurban atau ber-infaq hingga pada titik yang kita benar-benar merasa berat, karena kita mencintai qurban sejumlah itu ?

Memang tidak mudah menyembelih semua dominasi syahwat dan hawa nafsu ini. Untuk belajar menghargai waktu saja bukanlah hal yang sederhana, untuk belajar memaafkan orang lain pun juga bukanlah hal remeh, apalagi kita mencoba berjuang menemukan amal-amal shalih kita…

Tapi yang membuat kita senantiasa memiliki harapan kuat, adalah, karena Allah tidak pernah merasa bosan menerima dan menerima terus, setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri bahwa kita lemah, setiap pengakuan dosa kita, dan setiap keinginan taubat kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa kita memang butuh dan selalu membutuhkan Dia Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan. Semoga kita berhasil merayakan Idul Qurban atau Idul Adha kita dengan bersama-sama membangun kesadaran diri.

Ya Allah, semoga pengorbanan hamba demi taqarrub kepada-Mu Engkau terima, semoga Engkau beri pula hamba kekuatan untuk dapat menyembelih setiap dominasi hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa menenggelamkan hamba.

Diambil dari : http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=125491350843066

Sabtu, 16 Oktober 2010

Sejarah nabi palsu dan wahyu syaitan...

Sejarah nabi palsu dan wahyu syaitan...
 Oleh: Abduh Zulfidar Akaha





وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي .

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud (3710), At-Tirmidzi (2145), Ibnu Majah (3942), Ahmad (21361), Al-Baihaqi dalam Dala`il An-Nubuwwah (2901), Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ (249), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (8509), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (7361), dan Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin (2623); dari Tsauban bin Bujdud RA. At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih.” Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, namun mereka berdua tidak mengeluarkannya.” Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Tahqiq Misykat Al-Mashabih (5406), Shahih Sunan Abi Dawud (4252), Shahih Sunan At-Tirmidzi (2219), dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (2654).

Dengan matan sedikit berbeda, hadits tentang akan munculnya nabi palsu juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3340), Muslim (7526), At-Tirmidzi (2144), Ahmad (6930), dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (199); dari Abu Hurairah RA.


Rahasia “Penutup Para Nabi”


Fakta akan munculnya nabi-nabi palsu, jauh-jauh hari sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Demikianlah yang tersirat dari sabda beliau, “Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” Dan, demikian pula yang difirmankan Allah SWT, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)

Kata “penutup para nabi,” menyiratkan makna bahwa akan muncul nabi-nabi palsu, baik itu pada masa hidup Nabi Muhammad SAW maupun pasca beliau wafat. Fakta pun berbicara di kemudian hari, dimana sabda Nabi ini menemukan buktinya. Dan, kebenaran sabda ini tentu saja adalah sebagian dari mukjizat beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Secara tekstual hadits ini menyebutkan bahwa tiga puluh orang tersebut semuanya mengaku nabi. Inilah dia rahasia sabda Nabi pada akhir hadits sebelumnya, ‘Dan sesungguhnya aku adalah penutup para nabi.’ Hal ini juga bisa berarti bahwa yang mengaku sebagai nabi di antara mereka hanya tiga puluh orang, sementara selebihnya adalah para pendusta saja namun mereka menyeru kepada kesesatan.”


Nabi Palsu Pada Masa Nabi SAW dan Khulafaur Rasyidin


Pada masa Nabi, muncul nabi palsu di Yaman bernama Abhalah bin Ka’ab bin Ghauts Al-Kadzdzab, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Aswad Al-Ansi. Al-Aswad pernah mengirim surat kepada Rasulullah SAW, “Hai orang-orang yang membangkang kepada kami, kembalikanlah tanah kami yang telah kalian rampas. Berikan kepada kami apa yang telah kalian kumpulkan, karena kami lebih berhak memilikinya. Adapun kalian, cukuplah kalian dengan apa yang kalian miliki.”
Al-Aswad mati dibunuh oleh istrinya, Idzan, yang bekerja sama dengan pasukan kaum muslimin dalam strategi yang jitu. Berita matinya Al-Aswad sampai ke Madinah pada pagi hari wafatnya Rasulullah SAW. Namun, ada juga riwayat yang mengatakan bahwa kabar tersebut sampai Madinah ketika Khalifah Abu Bakar baru saja selesai mempersiapkan pasukan Usamah.
Di Yamamah, juga muncul nabi palsu bernama Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab. Musailimah (bukan Musailamah) pernah datang kepada Nabi bersama rombongannya dari Bani Hanifah. Dia berkata, “Jika Muhammad menyerahkan perkara ini kepadaku setelah dia meninggal, aku akan mengikutinya.”

Mendengar apa yang dikatakan Musailimah, Nabi bersabda, “(Jangankan kenabian), kamu minta tongkat ini dariku saja tidak akan aku berikan. Sungguh, jika kamu pergi, niscaya Allah akan menyembelihmu. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku apa yang akan terjadi padamu.”

Nabi benar. Musailimah mati disembelih oleh Wahsyi bin Harb. Dia lempar Musailimah dengan tombak, lalu dia sembelih Musailimah layaknya seekor onta. Lalu, datanglah Abu Dujanah. Dia hantam bangkai kepala Musailimah, dan dibelahnya menjadi dua. Musailimah mati pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Masih pada masa Nabi, dari Bani Asad muncul nabi palsu bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun sembilan Hijrah, dia datang bersama kaumnya kepada Nabi dan menyatakan keislamannya. Ketika Nabi sakit keras, dia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Dia ingin menggantikan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau.

Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum muslimin dan selalu kalah. Bersama istrinya, dia kabur ke Syam. Dia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.

Ada juga nabi palsu bergender perempuan. Sajah binti Al-Harits bin Suwaid namanya. Dia berasal dari Bani Tamim. Dia memproklamirkan kenabiannya setelah Nabi wafat dan ketika kaum muslimin sedang sibuk memerangi kaum murtaddin. Sajah tidak pernah terlibat peperangan langsung dengan kaum muslimin. Justru dia ‘bersaing’ dengan sesama nabi palsu, yakni Musailimah, yang sempat memperistrinya selama tiga hari. Dia tinggal di tengah-tengah kaumnya hingga masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, sebelum akhirnya dia diusir oleh Muawiyah.

Nabi Palsu Pasca Khulafaur Rasyidin


Dalam ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Imam Abu Ath-Thayyib Abadi menyebutkan sebuah atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Abu Zumail; Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas RA, “Hai Ibnu Abbas, sesungguhnya Al-Mukhtar bin Abi Ubaid mengaku bahwa tadi malam dia mendapatkan wahyu.” Ibnu Abbas berkata, “Dia benar.” Abu Zumail yang saat itu berada di dekat Ibnu Abbas langsung tersentak. Dia bangun dan berkata, “Ibnu Abbas mengatakan Al-Mukhtar benar telah mendapatkan wahyu?”

Kata Ibnu Abbas, “Sesungguhnya wahyu itu ada dua macam; wahyu dari Allah dan wahyu dari setan. Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. Sedangkan wahyu setan diturunkan kepada kawan-kawannya.” Lalu, Ibnu Abbas pun membaca ayat, “Sesungguhnya setan itu memberikan wahyu kepada kawan-kawannya untuk membantah kalian.” (QS. Al-An’am: 121)

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya.

Al-Harits ditangkap oleh Khalifah Abdul Malik. Ia disuruh bertaubat dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Tapi ia enggan. Ia tetap dalam kesesatannya. Akhirnya, Abdul Malik pun menjatuhkan hukuman mati padanya. Al-Ala` bin Ziyad berkata, “Aku tidak iri sedikit pun pada kekuasaan Abdul Malik. Tapi aku iri dengan vonis matinya terhadap Al-Harits. Sebab, Rasulullah SAW bersabda, ‘Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul tiga puluh orang dajjal pendusta yang semuanya mengaku nabi. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengaku nabi, maka bunuhlah ia. Dan barangsiapa yang membunuh salah seorang dari mereka, maka ia akan masuk surga’.” (HR. Ibnu Asakir)

Dua Sebab Munculnya Nabi Palsu


Setidaknya ada dua hal yang membuat seseorang mengaku nabi dan atau mendapatkan wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pertama, karena kebodohannya. Dan kedua, karena nafsu duniawi.

Dikarenakan kebodohan terhadap ajaran agama, seseorang yang lemah imannya sangat mudah digelincirkan setan. Dengan segala kelihaian dan kecerdikannya, setan bisa membuat seseorang merasa sangat yakin bahwa bisikan yang diterimanya adalah wahyu dari Allah melalui utusannya, Malaikat Jibril. Padahal, itu tak lain adalah bisikan setan .

Dan, dikarenakan nafsu duniawi, baik itu motivasi materi ataupun kedudukan, seseorang bisa saja mengaku sebagai nabi dengan cara-cara yang dipoles sedemikian rupa. Anehnya, masih saja ada orang ‘Islam’ yang percaya kepada nabi palsu. Dan tak kalah aneh, ada pula yang menganggap nabi palsu sebagai seorang mujaddid! Wallahu a’lamu bish-shawab.
Sumber : http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/item/39



Inilah Daftar Nama-nama Nabi Palsu  

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan para dajjal (pendusta) yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Semuanya mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul (utusan) Allah”. (HR: Al-Bukhari dan Muslim).

NABI PALSU SEBELUM ZAMAN ISLAM:

1. Zoroaster (Persia, 660-583 SM), kitab suci: Avesta. Mati terbunuh dalam perang melawan Bactria (Balkh).

2. Marcion (Roma, ± 144 M), pembentuk gereja Marcionite dan pemahaman Marcionisme .

3. Mani (Persia, ± 242 M), pendiri agama Manichaeisme (al-Maniwiyah). Mati dibunuh, dikuliti, dan kulitnya diisi jerami dan digantung oleh Bahram.

4. Daishan, pendiri aliran Daishaniyah yaitu suatu aliran ber-tuhan dua di Persia dari agama Majusi.

5. Mazdak (Persia, 487-523 M), pendiri aliran Mazdakiyah (Serba Boleh dan Semua Halal), kitab suci: Zanda. Mati dibunuh.

NABI PALSU DI ZAMAN JAHILIYAH:

1. Amru bin Luhayyi, (dari Kabilah Khuza’ah), orang yang pertama kali merubah agama Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi kemusyrikan dan penyembahan berhala.

NABI PALSU DI MASA RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM:

1. Al-Aswad al-Ansi (11 H/632 M) atau Abhalah bin Ka’ab bin Auf al-Ansi al-Madzhiji , seorang dukun dari Yaman. Mati dibunuh oleh Fairuz, kerabat istri al-Aswad.

2. Musailamah al-Kadzdzab (usia 150 tahun, mati tahun 12 H/633 M). Memiliki pasukan 40.000 orang. Mati dibunuh oleh Wahsyi dengan tombaknya pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

NABI PALSU SETELAH MASA RASULULLAH SHALA-LAHU ALAIHI WASALLAM:

1. Sajah binti Al-Harits bin Suwaid bin Aqfan at-Tamimiyah dari Bani Yarbu (mati tahun 55 H/675 M). Seorang dukun wanita yang mengaku Nabi di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq dan kemudian dinikahi oleh Musailamah al-Kadzdzab. Setelah Musailamah terbunuh, Sajah melarikan diri ke Irak kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan Islam.

2. Thulaihah al-Asadi (mati tahun 21 H/642 M). Masuk Islam tahun 9 H, kemudian murtad dan mengaku Nabi di Nejd pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat, Thulaihah bertaubat (masuk Islam) kemu-dian mati syahid dalam penaklukkan Persia.

3. Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Sempalan Syiah yang meyakini reinkarnasi (kembali-nya ruh orang yang sudah mati) dari satu orang ke orang lain. Dia mengaku Tuhan dan Nabi sekaligus.

4. Al-Mukhtar bin Abi Ubaid (Thaif, 622-687 M/67 H), pe-nganut Syiah yang mengaku Nabi dan mendapat wahyu. Dia adalah saudara iparnya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Mati dibunuh oleh Mush’ab bin Az-Zubair di Harura.

5. Mirza Ali Mohammad (abad 19). Pendiri agama Babisme dan penganut Syiah, dihukum mati oleh pemerin-tah Iran tahun 1843.

6. Mirza Husein Ali. Pendiri agama Bahaisme (pengganti Babisme) dan penganut Syiah. Mengaku Nabi tahun 1862 dan mati tahun 1892, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Abbas Efendy yang berpusat di Chicago.

7. Mirza Ghulam Ahmad (India 1835-1908). Pendiri agama Ahmadiyah. Kitab suci: Tadzkirah. Mati terkena wabah penyakit kolera.

8. Rashad Khalifa (Mesir, 1935-1990), penganut Tasawuf dan perintis Ingkarus Sunnah. Mati dibunuh oleh pengikutnya dengan disembelih dan ditusuk-tusuk dengan pisau dapur.

9. Asy-Syaikhah Manal Wahid Manna, wanita tersebut mulai melontarkan kesesatan sejak tahun 1995. Dan dipenjara oleh pemerintahan Mesir.

10. Tsurayya Manqus, seorang wanita peneliti, cendekiawan dalam bidang sejarah dari Yaman.

11. Muhammad Bakri, asal Yaman dan dibunuh oleh pengikut-nya, kemudian disalib di atas papan kayu.

12. Muhammad Abdur Razak Abul ‘Ala, asal Sudan. Bekerja sebagai tukang jahit di Kairo.

13. Dan masih ada beberapa Dajjal yang mengaku Nabi dari berbagai negara lainnya seperti di Sudan, Saudi Arabia, Mesir, Libanon dan lainnya.

NABI-NABI PALSU DI INDONESIA:

1. Ahmad Musaddeq atau H. Abdul Salam (Lahir Jakarta, 1942), mengaku menjadi Nabi tanggal 23 Juli 2006. Pemim-pin Al-Qiyadah Al-Islamiyah di rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kitab suci: Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri. Mengaku bertaubat tanggal 9 November 2007.

2. Lia Aminuddin, pendiri agama Salamullah. Mengaku mendapat wahyu dari malaikat Jibril dan mengklaim dirinya Nabi dan Rasul serta Imam Mahdi. Divonis hukuman 3 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

3. Ahmad Mukti, putra dari Lia Aminuddin yang dianggap sebagai Nabi Isa.

(Diambil dari buku “Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat” oleh Hartono Ahmad Jaiz. Printed by Maktabah Salman 2008)

Sumber: Facebook Abu Fahd NegaraTauhid

Minggu, 03 Oktober 2010

Macam - macam jihad

Jihad mudafa’ah atau jihad daf’iy (jihad membela atau melindungi diri).


Yaitu apabila kaum kuffar menyerang kaum muslimin atau mengepung negeri kaum muslimin. Maka wajib atas kaum muslimin untuk membela diri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Al-Fatawa 28/358-359 mengatakan, “Apabila musuh hendak menyerang kaum muslimin, maka menghadapi mereka adalah wajib atas orang-orang yang diserang langsung, dan juga wajib atas orang yang belum diserang untuk membantu saudara mereka, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

“Jika (saudara-saudara) meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka.” (QS. Al-Anfal : 72).”

Dan telah dimaklumi bahwa membantu sesama muslim dalam kebaikan dan ketakwaan adalah perkara yang terpuji, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma`idah : 2)

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مِثْلُ الْجَسَدِ, إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hubungan kasih sayang, rahmat dan berlemah lembut di antara mereka bagaikan satu jasad. Apabila salah satu anggota tubuhnya berkeluh, maka seluruh jasad merasakannya dengan tidak tidur dan rasa panas”. [1]

Dan juga Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan,

الْمُؤْمِنِ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin pada mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan bahagian yang lainnya”. [2]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Adapun jihad daf’iy, dia yang paling wajib di antara seluruh bentuk menahan musuh yang membahayakan kehormatan dan agama, (karena itu) ia adalah wajib menurut kesepakatan (para ulama). Tidak sesuatu yang lebih wajib setelah keimanan dari menolak musuh berbahaya yang akan merusak agama dan dunia. Maka tidak disyaratkan syarat apapun dalam menegakkan (jihad daf’iy) itu bahkan ia membela diri sesuai kemampuan.” [3]

Dan berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Perlombaan/pertandingan disyari’atkan adalah agar seorang mukmin mempelajari cara berperang, membiasakan dan melatih diri dengannya. Dan telah dimaklumi bahwa seorang mujahid (orang yang berjihad) kadang ia menghendaki untuk mengusir musuh bila sang mujahid adalah pihak yang diserang dan musuh adalah pihak yang menyerang, dan kadang (seorang mujahid) menghendaki kemenangan terhadap musuh dari permulaannya bila (sang mujahid) merupakan pihak yang menyerang dan musuh adalah pihak yang diserang, dan kadang (seorang mujahid) menghendaki semua dari dua perkara (tersebut). Dalam tiga keadaan tersebut, seorang mukmin diperintah untuk berjihad. Dan jihad daf’iy lebih sulit dari jihad tholab, karena jihad daf’iy mirip dengan bentuk mengusir musuh yang berbahaya. Karena itu, dibolehkan bagi orang yang dizholimi untuk membela dirinya, sebagaimana dalam firman (Allah) Ta’ala,

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.” (QS. Al-Hajj : 39)

Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Siapa yang terbunuh karena ia membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid dan siapa yang terbunuh karena ia membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid.” [4]

Karena mengusir musuh yang berbahaya terhadap agama adalah terhitung jihad dan qurbah (hal yang mendekatkan diri kepada Allah,-pent.), dan mengusir musuh yang berbahaya terhadap harta dan jiwa adalah hal yang boleh dan ada keringanan, kalau ia terbunuh kerenanya maka ia terhitung mati syahid. Maka jihad daf’iy lebih luas dari jihad tholab dan lebih wajib. Karena itu wajib atas setiap orang untuk menegakkan dan berjihad dengannya, (atas) seorang budak seizin tuannya maupun tidak, anak tanpa izin kedua orang tuanya dan orang yang berhutang tanpa izin dari pemiliknya. Dan ini seperti keadaan jihad kaum muslimin di (perang) Uhud dan Khandaq. Dan tidak disyaratkan dalam jihad jenis ini musuh hanya sejumlah dua kali lipat kaum muslimin atan kurang, karena (jumlah) musuh di perang Uhud dan Khandaq berlipat ganda di atas kaum muslimin dan jihad tetap wajib atas mereka karena waktu itu adalah jihad darurat dan membela diri, bukan jihad alternatif (jihad tholab, pent.)…” [5]

Kemudian kami perlu mengingatkan kepada para pembaca beberapa perkara :

Satu : Ada dua cara dalam menegakkan Jihad Daf’iy :

1. Apabila keadaan memungkinkan untuk menyerahkan urusan kepada penguasa dalam menghimpun pasukan dan mempersiapkan peperangan untuk menghadapi musuh, maka mereka wajib meminta pertimbangan kepada penguasa dalam hal tersebut, karena asal jihad itu adalah dengan izin penguasa sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya dan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin dimasa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di perang Khandaq.

2. Apabila musuh telah menyerang mereka dan mereka tidak mampu mengatur urusan dengan menghimpun pasukan dan mempersiapkan peperangan bersama penguasa, maka hendaknya setiap orang berperang membela dirinya sesuai dengan kemampuannya. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa dan lain-lainya. Sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid.” [6]

Dan sabda beliau yang lain.

مَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَ مَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia dianggap mati syahid.” [7]

Berkata Abdullah bin Imam Ahmad (w. 290 H) rahimahumallah, saya mendengar ayahku berkata, “Apabila imam (penguasa) mengizinkan dan rakyat mendapat seruan berjihad maka tidak apa-apa mereka keluar (untuk berjihad).” Saya berkata kepada ayahku, “Kalau mereka keluar tanpa seizin imam?” Beliau menjawab, “Tidak (boleh), kecuali imam mengizinkan, kecuali ada serangan tiba-tiba dari musuh terhadap mereka dan tidak memungkinkan mereka untuk meminta izin dari imam, maka saya berharap perbuatan tersebut termasuk membela kaum muslimin (jihad daf’iy,-pen.).” [8]

Dan berkata Ibnu Qudamah rahimahullah, “Urusan perang adalah kembali kepada (penguasa). Dia lebih mengetahui jumlah musuh, (cara) memerangi mereka, rahasia-rahasia dan makar mereka. Maka seharusnya kembali kepada pendapatnya, ia lebih berhati-hati terhadap kaum muslimin. Kecuali kalau tidak memungkinkan untuk minta izin darinya dimana musuh yang menyerang mereka secara tiba-tiba, maka tidak wajib untuk meminta izin darinya, karena mashlahat mengharuskan untuk memerangi mereka dan keluar menghadapi mereka serta pasti terjadi kerusakan kalau musuh tidak diperangi. Karena itulah, tatkala orang-orang kafir dengan diam-diam mengambil ternak-ternak Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka ditemui oleh Salamah bin Al-Akwa’ yang sedang keluar dari Madinah, lalu dia mengikuti mereka lalu membunuh mereka tanpa izin. Kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memuji beliau seraya berkata, “Sebaik-baik pasukan kami adalah Salamah bin Al-Akwa’.” Dan beliau memberikanya jatah (yang didapatkan oleh) seorang prajurit penunggang kuda dan pejalan kaki.” [9]

Dua : Boleh mengadakan perjanjian damai dengan musuh kalau kaum muslimin belum mampu menegakkan jihad daf’iy melawan musuh, kalau pimpinan memandang ada mashlahat dalam hal tersebut.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada perjanjian Hudaibiyah. Dimana beliau tidak memerangi kaum kuffar Makkah untuk membela kaum muslimin dan harta mereka yang masih berada di Makkah.

Tiga : Kalau sama sekali tidak mampu menghadapi musuh, maka boleh untuk tidak memerangai mereka sama sekali.

Hal ini sebagaimana yang telah lalu tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang diperintah untuk berlindung ke bukit Thur karena mereka tidak akan mampu menghadapi Yu`juj dan Ma`juj.

Empat : Kewajiban kaum muslimin menegakkan Jihad Daf’iy untuk membela saudara mereka dari serangan musuh disyari’atkan bila tidak ada perjanjian antara kaum muslimin dengan musuh tersebut.

Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,

“Jika (saudara-saudaranya) meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka.” (QS. Al-Anfal : 72)

Berkata Ibnu Kastir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “(Allah) Ta’ala berfirman, kalau mereka orang-orang Arab yang belum berhijrah itu meminta pertolongan kepada kalian dalam perang agama terhadap musuh mereka, maka tolonglah mereka. Sesungguhnya wajib atas kalian untuk menolongnya, karena mereka adalah saudara-saudara kalian seagama, kecuali kalau mereka meminta pertolongan kepada kalian terhadap sekelompok kaum kafir “yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka”, yaitu perjanjian perdamaian hingga waktu (tertentu), maka jangan kalian merusak janji kalian dan jangan kalian membatalkan sumpah yang kalian berjanji dengannya. Dan ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.”

Berkata Al-Qurthuby (w. 671 H) rahimahullah, “Kecuali mereka meminta pertolongan kepada kalian terhadap kaum kuffar yang telah ada antara kalian dan mereka perjanjian, maka jangan kalian menolong mereka terhadap musuhnya dan jangan kalian membatalkan janji kalian hingga sempurna waktu (yang telah disepakati).” [10]

Bertolak dari keterangan di atas, bila sebuah negeri Islam telah mengadakan perjanjian damai dengan negeri kafir, maka bila negeri kafir tersebut menzholimi negeri Islam yang lain maka tidaklah benar bila negeri Islam pertama membantu saudaranya. Kecuali kalau yang membantu mereka negeri Islam lain yang tidak terikat perjanjian damai, maka hal tersebut diperbolehkan sebagaimana dalam kisah Abu Bashir, Abu Jandal dan kaum muslimin yang lainnya, dimana mereka tidak terikat dengan perjanjian Hudaibiyah dan juga tidak bergabung dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada saat itu.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kandungan faedah kisah perjanjian Hudaibiyah, “Penjanjian yang terjadi antara Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum musyrikin, bukanlah perjanjian antara Abu Bashir dan teman-temannya dengan mereka. Dibangun di atas ini bila ada perjanjian antara sebagian raja kaum muslimin dan sebagian Ahludz Dzimmah dari kalangan Nasharô dan selainnya, maka boleh bagi raja kaum muslimin yang lain untuk memerangi mereka dan mengambil ghanimah (harta rampasan perang) dari mereka bila tidak ada perjanjian antara raja tersebut dengan mereka. Sebagaimana fatwa Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah, pent.) tentang Nasharô Mulathyah dan menawam mereka, berdalilkan kisah Abu Bashir (menyerang) kaum musyrikin.”[11]

Lima : Dari seluruh keterangan di atas, nampaklah bahwa kalimat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Tidak ditetapkan syarat apapun dalam menegakkan (jihad daf’iy) bahkan ia membela diri sesuai kemampuan” tidak berlaku secara mutlak sebagaimana sangkaan sebagian orang yang salah menempatkan ucapan beliau ini, sehingga mereka kadang mengobarkan Jihad Daf’iy tanpa mempertimbangkan mashlahat dan mafsadat-nya, tanpa menjaga ketentuan untuk tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar, tanpa membedakan antara kafir yang terjalin perjanjian damai dengannya atau tidak. Mereka lupa bahwa Syaikhul Ibnu Taimiyah adalah orang yang sangat menjaga ketentuan dalam hal-hal tersebut. Dan kisah beliau sangatlah masyhur ketika beliau menasehati penguasa agar mengobarkan perang menghadapi tentara Tatar yang akan menyerang Negeri Syam waktu itu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

[1] Hadits An-Nu’man bin Al-Basyir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary no. 6011 dan Muslim no. 2586.

[2] Hadits Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary no. 481, 2446, 6026, Muslim no. 2585, At-Tirmidzy no. 1933 dan An-Nasa`i 5/79.

[3] Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah hal. 532 dan Al-Fatawa Al-Kubrô 4/608.

[4] Akan datang takhrijnya.

[5] Al-Furusiyah hal. 187-189.

[6] Hadits ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary no. 2480, Muslim no. 141, Abu Daud no. 4771, At-Tirmidzy no. 1423-1424 dan An-Nasa`i 7/114-115.

[7] Diriwayatkan oleh Ahmad 1/187, 189, 190, Ath-Thayalisi no. 233, 239, Abu Daud no. 4772, At-Tirmidzy no. 1422, 1425, An-Nasa`i 7/115-116, Ibnu Majah no. 2580, Al-Bazzar no. 1259, 1260, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 3194, 4790, Ath-Thabarany 1/no. 352-354, dan lain-lainnya, sebagaian meriwayatkan secara lengkap dan ada yang hanya meriwayatkan sebagian konteks saja. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa’ 3/164 no 708.

[8] Al-Masa`il dari riwayat ‘Abdullah 2/258.

[9] AL-Mughni 13/33-34, penerbit Hajar, cetakan kedua tahun 1413H/1992M.

[10] Al-Jami’ Li Ahkamil Qur`an 8/57.

[11] Baca Zadul Ma’ad 3/309.


Sumber : http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/

Selasa, 14 September 2010

MAKNA SILATURAHIM

MAKNA SILATURAHIM

Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata وَصَلَ- يَصِلُ, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)

Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata: “الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)

Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab.

Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c, dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}


وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturahim termasuk inti dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami zberkata:

فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ

Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin, Bab Islam ‘Amr bin ‘Abasah, no. 1927)


Sumber :
Al-Ustadz Abu ‘Awanah Jauhari, Lc
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=725

MAKNA SILATURAHIM

MAKNA SILATURAHIM

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa`: 36)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturahim termasuk inti dakwah Islam, sebagaimana diriwayatkan Abu Umamah, dia berkata: Amr bin ‘Abasah As-Sulami zberkata:

فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ: أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لاَ يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ

Aku berkata: “Dengan apa Allah mengutusmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah mengutusku dengan silaturahim, menghancurkan berhala dan agar Allah ditauhidkan, tidak disekutukan dengan-Nya sesuatupun.” (HR. Muslim, Kitab Shalatul Musafirin, Bab Islam ‘Amr bin ‘Abasah, no. 1927)

Makna Silaturahim
Silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata صِلَةٌ dan الرَّحِمُ . Kata صِلَةٌ adalah bentuk mashdar (gerund) dari kata وَصَلَ- يَصِلُ, yang berarti sampai, menyambung. Ar-Raghib Al-Asfahani berkata: “وَصَلَ – الْاِتِّصَالُ yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain.” (Al-Mufradat fi Gharibil Qur`an, hal. 525)

Adapun kata الرَّحِمُ, Ibnu Manzhur berkata: “الرَّحِمُ adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut.” (Lisanul ‘Arab)

Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab.

Banyak orang yang mengakrabi saudaranya setelah saudaranya mengakrabinya. Mengunjungi saudaranya setelah saudaranya mengunjunginya. Memberikan hadiah setelah ia diberi hadiah, dan seterusnya. Dia hanya membalas kebaikan saudaranya. Sedangkan kepada saudara yang tidak mengunjunginya –misalnya– tidak mau dia berkunjung. Ini belum dikatakan menyambung tali silaturahim yang sebenarnya. Yang disebut menyambung tali silaturahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatannya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr c, dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah penyambung adalah orang yang hanya membalas. Tetapi penyambung adalah orang yang apabila diputus rahimnya, dia menyambungnya.” {HR. Al-Bukhari, Kitabul Adab bab (15) Laisal Washil bil Mukafi, no. 5991}

Sumber :
Al-Ustadz Abu ‘Awanah Jauhari, Lc
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=725

Rabu, 25 Agustus 2010

TAFSIR SURAT AL FATIHAH AYAT 6

TAFSIR SURAT AL FATIHAH AYAT 6
Ihdinash shiraathal mustaqiim, artinya : Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Dalam ayat kelima kita telah menyatakan kepada Allah SWT, bahwa kita hanya beribadah kepada-Nya, dan hanya minta tolong kepada-Nya, Agar hidup kita ini penuh dengan ibadah, dan amal perbuatan yang mempunyai nilai ibadah sehingga kita mendapatkan ridha Allah SWT, maka dalam ayat keenam ini kita bermohon sepenuh hati kepada Allah SWT, agar kita diberinya petunjuk (hidayah) menuju jalan yang lurus (shirathal mustaqim).
Menurut Muhammad Abduh (Tafisr Al-Manar 1:62-63) hidayah atau petunjuk Allah pada manusia ada empat macam, yaitu : Petunjuk naluuri, petunjuk panca indera, petunjuk akal dan petunjuk agama. Wahbah az-Zuhaily (Tafsir al-munir 1:59-60) menambahkannya dengan petunjuk yang kelima yatu : Petunjuk ma’unah dan taufiq.

Pertama: Petunjuk “ Naluri ”.
Anak yang baru lahir dengan naluri pandai menangis. Tangis merupakan alat komunikasi anak untuk berinteraksi dengan orang sekitarnya khususnya dengan ibunya sendiri. Disaat anak merasa lapar dan haus dia akan menangis, demikian juga disaat dia buang air kecil maka diapun menyampaikan kepadannya dalam bentuk tangis, demikian juga waktu dia digigit nyamuk umpamanya maka diapun menangis. Semua tangisan itu dapat difahami oleh si ibu sehingga sianak segera dapat perhatian dan pertolongan dari ibunya. Coba anda bayangkan bagaimana kalau anak yang baru lahir tidak pandai menangis, apa yang akan terjadi ? Bagaimana dia menyampaikan pada ibunya apa yang terasa dalam dirinya seperti haus, lapar , kesakitan dan lain lain ? Siapa yang membuat anak pandai menangis ? Subhanallah, mahasuci Allah yang telah memberikan naluri pada anak untuk pandai menangis.
Setelah si ibu mendengar anaknya menangis , maka si ibu umpamanya memahami bahwa anaknya sedang haus atau lapar, maka si ibu dengan penuh kasih sayang menyodorkan “ASI” (air susu ibu) pada anaknya, dan si anak pun lansung pandai mengisap dan menelan asi tersebut, ini juga naluri yang diciptakan Allah pada setiap anak.

Kedua : Petunjuk “ Panca Indera ”.
Setelah umur anak bertambah minggu demi minggu dan bulan demi bulan, maka panca indera anak pun mulai aktif satu persatu. Mata anak mulai mampu membedakan orang dan warna sekitarnya. Telinga anak mulai aktif untuk mendengar bunyi-bunyian sekitarnya. Anak dapat membedakan suara ibunya dengan suara orang lain. lidahnya anak dapat merasakan makanan dan minum yang diberikan padanya. Demikianlah seterusnya, dengan panca indera anak dapat mengenal lingkungan dengan lebih luas, dan dengan demikian pula dapat ber interaksi dengan lingkungannya.

Ketiga : Petunjuk “ Akal ”
Jangkauan panca indera manusia sangat terbatas. Manusia hanya dapat melihat dan mendengar hal yang berada disekitarnya. Hal hal yang jauh dari tempat dia berada tidak dapat dilihat dan didengarnya. Hal yang dekat darinyapun adakalanya tidak dapat dilihatnya dengan sempurna sesuai dengan kenyataan. Umpamanya dia melihat kawat listrik yang terbentang berliku liku , padahal sebenarnya dia lurus. Dia melihat kapal terbang yang sudah jauh dari pandangannya jadi kecil, padahal sebenarnya kapal terbang itu adalah besar. Untuk kesempurnaan jangkauan panca indera itu maka Allah memberi manusia petunjuk yang lebih sempurna , yaitu petunjuk akal. Dengan akal manusia dapat mengetahui hal hal yang jauh dari jangkauan panca inderanya. Akal merupakan keistimewaan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding binatang. Binatang hanya punya insting atau naluri dan panca indera, tapi tidak punya akal.
Dengan akal manusia dapat menimba ilmu sebanyak banyaknya, baik ilmu untuk kepentingan dunianya, maupun untuk kepentingan akhirat. Subhanallah..Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan akal pada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Keempat : Petunjuk “ Agama ”
Akal manusia juga sangat terbatas. Akal hanya dapat mengetahui hal hal yang bersifat zahir. Hal yang bersifat ghaib, seperti mengenal Allah, mengenal Malaikat, Iblis dan Jin, mengenal alam akhirat semua itu tidak dapat dijangkau manusia semata dengan akal, karena itulah Allah melengkapi manusia dengan agama. Dengan petunjuk agama yang dibawa para rasul maka manusia dapat mengenal hal hal yang diluar jangkauan akalnya seperti mengenal Allah, mengenal Malaikat, mengenal hal ihwal hari akhir semuanya itu hanya dapat dinalar manusia dengan media agama yang diturunkan Allah pada manusia.
Akal berfungsi untuk memenuhi kebutuhan otak manusia, sedangkan agama berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hati manusia. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberi manusia hati untuk menalar agamanya.

Kelima : Petujuk “ Ma’unah dan Taufiq ”
Ma’unah dan Taufiq adalah pertolongan langsung dari Allah SWT, yang menggerakkan hati seseorang untuk menerima dan mengamalkan hidayah (petunjuk) yang telah disampaikan Allah SWT. atau disampaikan Rasulullah SAW. dalam hadits beliau. Ada orang yang ilmunya tentang shalat cukup banyak dan luas, namun dia tidak shalat. Apakah yang kurang pada orang ini? Yang kurang adalah ma’unah dan taufiq dari Allah SWT. karena itulah para ulama setelah memberikan taushiah biasanya menutup taushiahnya dengan ucapannya : Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq pada kita. Atau semoga Allah memberikan ma’unah dan taufiq pada kita.
Sebaliknya ada orang yang sedikit saja belajar tentang ibadah umpamanya, namun setelah mendapatkan ilmu tentang ibadah itu dia lansung menerima dan mengamalkannya dalam kehidupan, berarti orang ini disamping mendapatkan hidayah dari Allah langsung mendapatkan taufiq dan ma’unah dari Allah SWT.
Paling kurang tujuh belas kali sehari semalam dalam shalat kita minta kepada Allah agar kita diberiNya hidayah. Yang kita harapkan dari Allah adalah hidayah yang disertai dengan taufiq yang menggerakkan hati kita dengan penuh kesadaran untuk mengamalkannya. Hidayah yang disertai dengan ma’unah dan taufiq adalah hak Allah sepenuhnya, bahkan Rasulullah sendiri tidak punya kemampuan untuk itu. Setelah sekian banyak usaha yang dilakukan Rasulullah untuk menyampaikan hidayah pada paman beliau Abu Thalib namun Abu Thalib tetap saja kafir, maka Rasulullah merasa sedih dan kecewa, maka turunlah firman Allah SWT :
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS.Al-Qashash 28:56)

Apa yang dimaksud dengan Shirathal mustaqim?
Jawabanya akan kita dapatkan dalam ayat berikutnya (ayat 7)

Sabtu, 05 Juni 2010

DAFTAR NILAI UJIAN AKHIR SEMESTER (USEK) DAN NILAI RAPORT SEMESTER II PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

-->
DAFTAR NILAI
UJIAN AKHIR SEMESTER (USEK) DAN NILAI RAPORT SEMESTER II PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TA. 2009 - 2010

KELAS VI A

 1.        Adhi Rahmantoro          
            - USEK             : 9,28
            - RAPORT         : 7,83
 2.        Ahmad Zulfikar Amal     
            - USEK             : 8,92
            - RAPORT         : 7,42
 3.        Alifah Zata Hanani         
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 8,68
 4.        Alma Olivia Juniata        
            - USEK             : 9,08
            - RAPORT         : 7,50
 5.        Ariesa Editya Pratama  
            - USEK             : 9,25
            - RAPORT         : 7,89
 6.        Belatus Sa'diyah          
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 8,88
 7.        Erika Nur Wahyu Febriyan         
            - USEK             : 9,32
            - RAPORT         : 7,92
 8.        Fitria Andriyani 
            - USEK             : 9,82
            - RAPORT         : 9,31
 9.        Hauly Mega Sakti         
            - USEK             : 9,32
            - RAPORT         : 6,20
10.        Hinggis Safira Sari        
            - USEK             : 9,32
            - RAPORT         : 7,56
11.        Imam Safi'I       
            - USEK             : 9,15
            - RAPORT         : 7,79
12.        Ivana Saumi Safitri        
            - USEK             : 9,42
            - RAPORT         : 8,30
13.        Laily Oktavia     
            - USEK             : 9,08
            - RAPORT         : 8,73
14.        Muhammad Arief Wicaksono     
            - USEK             : 5,34
            - RAPORT         : 6,00
15.        Muhammad Rifqy Wiyono          
            - USEK             : 9,60
            - RAPORT         : 8,77
16.        Naufal Nur Mahdy         
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 7,98
17.        Niken Ayu Palupi          
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 8,17
18.        Novia Ayu Saraswati     
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 7,98
19.        Nur Fadilah       
            - USEK             : 9,82
            - RAPORT         : 8,38
20.        Rachmalia Kartika Putri 
            - USEK             : 9,48
            - RAPORT         : 8,65
21.        Regita Kartika Triandini
            - USEK             : 8,91
            - RAPORT         : 7,75
22.        Ryan Pramana Putra     
            - USEK             : 8,54
            - RAPORT         : 7,96
23.        Ryan Ilham Fibriansyah 
            - USEK             : 9,35
            - RAPORT         : 7,37
24.        Sandi Ardiansyah          
            - USEK             : 9,45
            - RAPORT         : 7,38
25.        Saiful Anwar     
            - USEK             : 9,45
            - RAPORT         : 7,31
26.        Sarah Alfionita  
            - USEK             : 9.35
            - RAPORT         : 7,69
27.        Taufiqqorhman  
            - USEK             : 6,20
            - RAPORT         : 7,26
28.        Tamara Joe Belladona   
            - USEK             : 8,75
            - RAPORT         : 7,51
29.        Ulfatud Diana    
            - USEK             : 9,25
            - RAPORT         : 8,95
30.        Virna Septaningtyas      
            - USEK             : 9,45
            - RAPORT         : 7,76
31.        Yusuf Parry Akbar         
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 7,66
32.        Rionaldy Rizal Widyantoro         
            - USEK             : 9.82
            - RAPORT         : 7,81
33.        Andrisa Kurnia Dwi A    
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 7,71
34.        Abdul Ghofur    
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 8,55
35.        Auliya Savira    
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 8,25
36.        Ajeng Pramaiswari        
            - USEK             : 9,05
            - RAPORT         : 8,39
37.        Ayesha Badzlina           
            - USEK             : 8,54
            - RAPORT         : 7,73
38.        Bilal Safero Putra          
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 8,46
39.        Bagus Antonio Wardhana          
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 7,98
40.        Brahmantiana Pratama  
            - USEK             : 9,62
            - RAPORT         : 8,50
41.        Chirra Anluthia  
            - USEK             : 7,82
            - RAPORT         : 6,99
42.        Dimas Wahyu Pribadi    
            - USEK             : 9,22
            - RAPORT         : 8,83

























DAFTAR NILAI
UJIAN AKHIR SEMESTER (USEK) DAN NILAI RAPORT SEMESTER II PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TA. 2009 - 2010


KELAS VI B

1.         Dinah Rahmasari          
            - USEK             : 9,82
            - RAPORT         : 8,28
2.         Davis Pandu Putra        
            - USEK             : 9,40
            - RAPORT         : 8,30
3.         Diah Habibah    
            - USEK             : 9,40
            - RAPORT         : 8,63
4.         Dinar Arianti Mitra         
            - USEK             : 9,60
            - RAPORT         : 8,70
5.         Excel Bayu Samudra    

6.         Fauzi Indra Ramadhan   
            - USEK             : 8,91
            - RAPORT         : 7,71
7.         Fatur Rizal Pratama      
            - USEK             : 8,51
            - RAPORT         : 8,10
8.         Khudrotul Nisa  
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 9,01
9.         Mochammad Iqbal         
            - USEK             : 9,70
            - RAPORT         : 8,91
10.        Mochammad AbuSoffan 
            - USEK             : 7,84 
            - RAPORT         : 7,31
11.        Mitha Susilowati           
            - USEK             : 8,40
            - RAPORT         : 8,49
12.        Melinda Ayu Putri         
            - USEK             : 9,35
            - RAPORT         : 8,50
13.        Mochammad Alfandi      
            - USEK             : 9,52
            - RAPORT         : 8,08

14.        Nadia Putri Krismonita   
            - USEK             : 8,98
            - RAPORT         : 7,99
15.        Novita Permatasari        
            - USEK             : 9,15
            - RAPORT         : 8,63
16.        Olivia Kelly Lesmana     
            - USEK             : 9,05
            - RAPORT         : 7,90
17.        Poppy Savitri    
            - USEK             : 9,22
            - RAPORT         : 8,27
18.        Quinta Florentia
            - USEK             : 8,41
            - RAPORT         : 7,74
19.        Rio Putra Muria 
            - USEK             : 9,28
            - RAPORT         : 7,65
20.        Ruri Bunga       
            - USEK             : 8,94
            - RAPORT         : 7,61
21.        Rizky Ageng Nuraini      
            - USEK             : 9,45
            - RAPORT         : 8,76
22.        Refintia Dinda Rozaki    
            - USEK             : 9,48
            - RAPORT         : 8,42
23.        Siti Aisyah       
            - USEK             : 9,65
            - RAPORT         : 8,45
24.        Syaiful Febriansyah       
            - USEK             : 9,82
            - RAPORT         : 7,78
25.        Tamara Aprilia Putri       
            - USEK             : 9,82
            - RAPORT         : 8,69
26.        Vicky Dendy Alvando    
            - USEK             : 9,15
            - RAPORT         : 7,54
27.        Wisnu Nandya  
            - USEK             : 8,98
            - RAPORT         : 7,45
28.        Yason Andronikhus
           
29.        Yogi Wahyu Giantoro    
            - USEK             : 9,42
            - RAPORT         : 7,20
30.        Yunita Dwi Ayu A          
            - USEK             : 9,42
            - RAPORT         : 7,84
31.        Zakiah Nur Sabilah        
            - USEK             : 7,45
            - RAPORT         : 6,56
32.        Zarah Mouditya 
            - USEK             : 9,15
            - RAPORT         : 8,88
33.        Clipi Farid Syahputra Brahmanato          
            - USEK             : 9,02
            - RAPORT         : 8,67
34.        Sista Mutiya Atikanta    
            - USEK             : 9,50
            - RAPORT         : 8,55
35.        Cherry Mas aldef alvian  
            - USEK             : 8,17
            - RAPORT         : 7,36
36.        Fernanda Iriani  
            - USEK             : 9,65
            - RAPORT         : 8,29
37.        Wisnu Adji Rido Ramadhiono     
            - USEK             : 6,85
            - RAPORT         : 6,36
38.        Gabriel Chelline Dion     

39.        Christin O

40.        Mochammad Edo Arianto
            - USEK             : 9,02
            - RAPORT         : 7,96
41.        Sigit Anwaruddin           
            - USEK             : 8,75
            - RAPORT         : 7,65
42.        Ira Purtri Amalia Ridwan            
            - USEK             : 9,15
            - RAPORT         : 8,60

 
Blogger Templates